Istriku Seribu

Istriku SeribuIseng Sebab tengah libur panjang dan tengah kehausan dengan bacaan Kebetulan ibu pernah merekomendasikan buku ini padaku namun belum aku sentuh Maka aku rasa, tidak ada ruginya juga untuk coba membaca tulisan Emha Ainun Nadjib yang kabarnya memang bagus dan thought provoking.Resensi LengkapAku tidak berani merekomendasikan buku ini untuk sembarang orang Mungkin aku rasa, mereka yang sudah memiliki pemahaman cukup tentang Indonesia minimal tahu apa yang terjadi dengan negara kita bisa membaca buku ini sebagai referensi dalam melihat Indonesia.Secara keseluruhan aku suka dan jadi ingin membaca tulisan Emha yang lain iya aku tahu beliau sering menulis di web. Penduduk Negeriku Malas Belajar Sejarah, Ogah Berpikir, Tidak Pernah Merasa Penting Untuk Mempelajari Suatu Persoalan Melalui Pertimbangan Pemikiran Yang Saksama Kalau Ada Buah Busuk, Mereka Beramai Ramai Sibuk Mengutuknya, Membuangnya, Menghina Buah Itu, Tanpa Sedikit Pun Ingat Pada Pohonnya Apalagi Akarnya, Terlebih Lagi Tanahnya Jangankan Lagi Pencipta Tanah Itu Istriku Seribu Merupakan Essay Yang Ditulis Cak Nun Dalam Meletakkan Isu Poligami Pada Konteks Kehidupan Bermasyarakat Alih Alih Tenggelam Dalam Debat Tanpa Ujung Mengenai Poligami Dan Kehidupan Rumah Tangga, Dalam Buku Ini, Kita Akan Diajak Mengikuti Dialektika Satir Antara Yai Sudrun Dan Cak Nun Mulai Dari Asal Mula Turunnya Ayat Yang Mengatur Poligami, Kewajiban Manusia Terhadap Sesamanya, Prasangka Manusia Yang Membutakan, Hingga Konsep Cinta Dalam Berbagai BentukBersama Keseribu Istrinya, Istri Ar Rahman Dan Ar Rahim, Cak Nun Mengajak Kita Untuk Memetakan Kembali Batasan Dan Perintah Tuhan Yang Sesungguhnya Dibuat Untuk Memancing Akal Manusia Rahman dulu, baru Rahim Beres cinta sosial dulu, barulah ketenteraman cinta pribadi Emha Ainun Nadjib hal 64 Alhamdulillahirabbil alamin Lagi lagi saya harus mengucapkan syukur ke hadirat Illahi Rabbi atas terbitnya kembali buku ini yang saya beli berbarengan dengan buku Emha lainnya, yaitu 99 Untuk Tuhanku Istriku Seribu rupanya menempuh perjalanan yang lumayan panjang untuk hadir kembali ditengah tengah masyarakat Istriku Seribu merupakan kumpulan esai Emha Ainun Nadjib yang mengangkat isu poligami dalam konteks kehidupan bermasyarakat Mulai dari asal mula turunnya ayat yang mengatur poligami, kewajiban manusia terhadap sesamanya, prasangka manusia yang membutakan, hingga konsep cinta dalam berbagai bentuk Emha kali ini tidak tampil sendirian Ia ditemani oleh Yai Kiai Sudrun, barangkali pembaca Emha sudah kenal sebelumnya.Sebagian pembaca pasti kaget bila menyadari bahwa buku ini tidaklah cukup tebal untuk membahas isu semacam poligami Pembaca mungkin tidak akan percaya bahwa Emha mampu menguraikan hal hal yang demikian itu dalam buku yang tebalnya tak sampai 100 halaman Pun, dimensi buku ini pun cenderung lebih kecil dari buku komik Jepang terjemahan.Perlu dipahami juga bahwa walaupun esai esai didalamnya berdiri dengan judul masing masing, sesungguhnya semuanya itu adalah satu jua adanya Emha dengan cerdik menempatkan esai esainya sedemikian rupa agar pembaca mampu mencerna pelajaran dari setiap kisah, cerita, dan segenap dialektikanya bersama Yai Sudrun Memang telah disinggung di bagian awal bahwa sedianya judul asli tulisan dalam Istriku Seribu ini adalah Poligami Monopoligami Nopomimogali , yang lantas membuat Yai Sudrun langsung naik pitam.Dalam memahami Istriku Seribu , pembaca harus membaca esai dengan urut mulai dari awal Harus ada kesepahaman nilai terlebih dahulu dengan penulisnya sebelum menafsirkan isi buku ini Mungkin hal itu diperlukan pengulangan beberapa kali demi tercapainya satu konsensus bersama dan juga sebagai ijtihad agar tidak salah mengartikan.Untuk mulai proses memahami tersebut, bisa dimulai pada esai Sudrun dan Tuhan Tak Mau Diduakan , Emha mengajak kita untuk memahami Kanjeng Nabi Muhammad SAW, yang baginya Aisyah itu adalah istri utama namun menjelang dicabutnya nyawa Beliau, yang disebut sebut justru bukanlah Aisyah R.A, melainkan Ummatiii Ummatiii Kemudian, pada konteks sifat Allah SWT Ar Rahim cinta ke dalam, cinta vertikal, cinta personal istri kita adalah ibunya anak anak kita Persuami istrian lelaki perempuan adalah suami istri dengan skala ar Rahim, meskipun berposisi dialektis dengan ar Rahman suami istri sosial cinta meluas, horizontal, keluar Pada Kanjeng Nabi, istri ar Rahim nya adalah Khadijah, yang bersamanya justru beliau berdua memberi kontribusi kontribusi sangat besar secara ar Rahman.Setelah Khadijah R.A wafat, istri ar Rahim Beliau adalah Aisyah Istri beliau yang lain pada masa sepuhnya adalah istri istri dalam konteks ar Rahman istri sosial, istri yang diambil karena dan berdasarkan pertimbangan pertimbangan sosial banyaknya janda janda peperangan, sejumlah wanita teraniaya, jumlah tak seimbang antara lelaki dan perempuan.Kaum Muslim bersemayam di kandungan kalbu Kanjeng Nabi, terkadang bagai salju yang sejuk, terkadang bagai api yang membakar dada beliau Kanjeng Nabi tidak punya masalah pribadi dengan manusia, dunia, atau Tuhan Beliau sudah dijamin masuk surga Namun, setiap malam, Kanjeng Nabi bersujud, tahajud, menangis, menangis, menangis Dan yang Beliau tangisi bukan diri Beliau sendiri, bukan istrinya yang ar Rahim, Khadijah almarhumah atau Aisyah, melainkan istri ar Rahman yakni Umat Islam.Mungkin salah satu hal yang Kanjeng Nabi tangisi adalah karena Kaum Muslim yang istri utamanya tidak pernah benar benar meletakkan Beliau sebagai istri atau suami Beliau yang utama Dalam hampir semua bagian dari sejarahnya, Kaum Muslim memperistrikan atau lebih akurat mempermaisurikan harta benda, kekuasaan, kepentingan pribadi, dan keserakahan dunia Allah dan Muhammad seringkali disebut sebut dalam konteks kepentingan untuk mendapatkan kekayaan atau kekuasaan Allah dan Kanjeng Nabi hanya instrumen bagi Kaum Muslim yang dipakai untuk memperbanyak perolehan modal, deposit materi, kekuasaan, atau popularitas Hal 47 49 Emha mulai bicara lugas soal poligami sejak asal usul hingga pedoman pelaksanaannya sejak esai berjudul Satu Suami Ratusan Istri Pada zaman sebelum Kanjeng Nabi mengantarkan ajaran Allah, lelaki di masyarakat meletakkan kaum wanita sebagai barang atau aksesori berlian atau budak Lelaki waktu itu, kalau kaya, bisa mengawini ratusan wanita Kaum wanita dianiaya, direndahkan derajatnya, dianggap barang, diambil dan dibuang semaunya oleh lelaki.Dalam keadaan itu, Allah SWT melakukan revolusi dari fakta ratusan istri diradikalkan menjadi hanya paling banyak empat istri, dengan peringatan keras jangan mengeksploitasi mereka dalam hal apapun Dari ratusan istri diradikalkan menjadi empat istri merupakan sebuah tahap, Dan, tahap inilah yang dipergunakan oleh sebagian besar pelaku pernikahan dalam Islam untuk dipakai sebagai dasar hukum bahwa lelaki boleh beristri empat Segala sesuatunya disetop disini dan dilegitimasi bahwa syariat Islam memperkenankan hal itu, seolah olah tidak ada dimensi lain yang perlu dipertimbangkan Maka, seluruh dunia pada abad 21 ini beranggapan seperti itu, stagnan dalam justifikasi bahwa Islam memperbolehkan lelaki kawin empat hal 84 86 Esai selanjutnya, Tuhan Mengajak Berdiskusi berisi diskusi antara ayat Tuhan dengan akal pikiran manusia Tuhan tidak hanya memberi perintah, tetapi juga mengajak manusia berdiskusi, agar manusia memproses pemikirannya kemudian mengambil keputusan sendiri dengan akalnya.Pada kalimat yang sama, dengan radikalisasi ratusan istri menjadi empat istri, Tuhan memancing kedewasaan akal manusia Kalau engkau takut tidak akan bisa berbuat adil, maka satu istri saja Itu pun kalimat sebelumnya, yang menyebut istri satu atau dua atau tiga atau empat dimulai dengan kata maka Artinya, pasti ada anak kalimat sebelumnya Ada latar belakangnya, ada pertimbangan pertimbangannya, tidak bisa dipotong disitu.Maka, kawin empat itu juga berangkat dari prasyarat prasyarat sosial yang kita himpun disamping dari yang dipaparkan oleh Tuhan dan sejarah, juga kita cari melalui aktivitas akal kita sendiri Kawin empat, menurut kematangan akal dan rasa kalbu kemanusiaan, tidak pantas dilakukan atas pertimbangan individu Ia memiliki konteks sosial Ia bukan merupakan hak individu, melainkan kewajiban sosial Kewajiban adalah sesuatu yang terpaksa atau wajib kita lakukan, senang atau tidak senang Karena masalahnya tidak terletak pada selera, kenikmatan atau kemauan pribadi, melainkan pada kemaslahatan bersama.Engkau menjadi manusia yang tidak tahu diri kalau Tuhan mengatakan, kalau engkau takut tak bisa berbuat adil lantas engkau bersombong menjawab kepada Tuhan, Aku bisa kok berbuat adil , kemudian ambil perempuan jadi istri keduamu Bahkan engkau nyatakan Aku ingin memberi contoh poligami yang baik seolah olah Tuhan tidak membekalimu dengan akal dan rasa kalbu kemanusiaan hal 88 90 Melalui Istriku Seribu , Emha mengajak kita untuk senantiasa berijtihad dengan memproses pemikiran dengan akal dan rasa kalbu kemanusiaan Emha tidak menafsirkan poligami menjadi sebuah polemik yang kaku dan tetap Emha ingin berpesan bahwa banyak hal hal yang harus dipahami terlebih dahulu dalam memaknai satu dan sekian banyak ayat ayat Tuhan Termasuk implikasi sosio historisnya dalam konteks kehidupan berkeluarga Emha tidak berkata tidak kepada poligami, tetapi ia menegaskan kembali satu persyaratan utama dari Allah SWT Satu hal yang sering kita anggap remeh bahwa kita bisa dan mampu berlaku adil Sedang, Tuhan yang menciptakan manusia sangatlah paham, bahwa ciptaannya itu takkan mampu berbuat demikian.Catatan SingkatUsai pembacaan buku ini selesai, saya tidak hanya mendapatkan penjelasan Emha mengenai poligami yang telah diuraikan diatas, buku ini juga mengantarkan saya kembali pada definisi Manajemen, dimana sebelumnya pada bulan Ramadhan tahun 2011 lalu pernah saya muat juga dalam blog ini Bila pembaca penasaran, sila loncat ke halaman 39 atau klik link berikut.Selain definisi manajemen versi Emha Ainun Nadjib, saya juga menemukan keteguhan sikap Emha atas dunia Seperti yang pernah saya saksikan pada satu sesi pengajian MaiyahanSilakan menertawakanku, melecehkanku, membuangku Namun, engkau wahai dunia, tidak akan sedikit pun pernah mampu mengubah sejengkal saja kakiku dari pijakan cinta yang kupilih Kalian tidak akan pernah bisa memusnahkanku, karena aku sudah merdeka dari kemusnahan, sudah merdeka dari yang kalian pahami sebagai kehidupan dan kematian hal 58 Sungguh tegas pernyataan Emha diatas Pernyataan yang lahir dari keteguhan hati dan kebesaran jiwa, yang hanya mendamba pada Allah SWT semata Agaknya, mengenai sikap Ehma yang demikian itu tidaklah perlu diadakan penelitian tersendiri Lintasan waktu sejarah telah menggembleng Emha untuk menempuh jalan sunyinya sendiri. Poligami barangkali menjadi bahasan yang tak pernah sepi diperbincangkan di masyarakat Ada pro dan kontra, tentu saja Sebagian berpendapat boleh poligami dengan alasan mengikuti syariat agama, sebagian yang lain menolak poligami dengan alasan melukai hak asasi wanita, dan sebagian lainnya lagi memilih berada di tengah tengah, poligami dibolehkan dengan syarat syarat tertentu yang kondisional.Entah kesambet apa saya sehingga memutuskan untuk membaca buku dengan tema yang berbahaya ini Lalu, tersesat ke dalam kalimat kalimat filsafati yang penuh perenungan dan tak bisa dibaca sambil ngemil kacang Namun demikian, sebut saja saya sedang tersesat di jalan yang benar Buku ini tipis saja, akan tetapi sarat akan nilai nilai kehidupan yang berharga.Di samping menyoroti seputar poligami, di dalam buku ini Cak Nun juga menyinggung permasalahan permasalahan sosial yang terjadi di masyarakat kita Masyarakat Indonesia, lebih tepatnya Bagaimana mereka sangat mudah ribut ribut sebab perkara yang remeh temeh, mudah teradu domba sebab hal hal yang sepele Melalui buku ini pula, Cak Nun mengajak kita untuk belajar berlapang dada ketika menghadapi sebuah kezaliman yang menimpa diri sendiri, sebab kezaliman yang dilakukan orang lain atas diri kita itu akan menjadi investasi pahala di masa yang akan datang Dan banyak lagi pelajaran kehidupan yang disampaikannya melalui interaksi penulis dengan Yai Sudrun.Kembali ke masalah poligami, penulis membahas asal mula ayat tentang poligami diturunkan, bagaimana kondisi social pada masa itu Di bagian akhir buku ini, terdapat esai yang cukup menarik tentang bahwasanya Tuhan hanya sedang mengajak kita berdiskusi Diskusi antara ayat Allah dengan akal pikiran manusia Allah membolehkan laki laki untuk berpoligami dengan syarat utama dapat berlaku adil Sementara, dalam ayat lain secara tegas Allah menyatakan bahwa kaum lelaki sesekali tidak akan pernah mampu berbuat adil Demikian, hendaknya manusia berpikir serta merenungkannya sebelum mengambil keputusan, demi kemaslahatan bersama. Nice reading. Cak Nun mengajak kita untuk memikirkan kembali isu poligami tak hanya melulu masalah syahwat dan lain lain yang berhubungan dgn kenikmatan dunia yang inderawi Cak Nun menunjukkan bahwa sesungguhnya nash Alquran yang memuat masalah poligami memiliki makna yg kompleks dan amat sangat luas Kata Poligami disini dimaknai tak hanya buat kaum lelaki, tetapi juga bagi perempuan yang berwujud pada cinta sosial, alih alih pada cinta terhadap individu seperti yg dipahami secara umum Membaca karya Cak Nun selalu membuka cakrawala berpikir baru Meski dibalut humor dan dialog dialog absurd, namun tak menutup maksud dan makna yg ingin disampaikan Dan pembaca, sudah tentu manggut2 mengiyakannya Awalnya beli ini karena kukira ini novel Nggak baca kata essai di bagian bawah sinopsisnya Ya udahlah.Dibacanya juga nggak gitu niat, sih, secara aku nggak gitu into essai essai begini Jadi bacanya putus nyambung Kadang lupa udah nyampe mana hhe saking lamanya Padahal bukunya tipiiiiiis sekali, lho Kurasa ada beberapa bagian yang nggak sengaja terlewati.Kapan kapan mau baca ulang lagi Mau sekali jalan aja biar lebih memahami lagi Sampe sini nggak berani nulis review yang gimana gimana amat hhe soalnya aku baca juga nggak becus Lewat buku ini Cak Nun menguraikan dengan sangat jelas bagaimana memetakan fenomena poligami dalam ranah sejarah dan kekinian.Apakah poligami relevan diikuti oleh Muslim dengan alasan mengikuti sunnah Rasulullah Bagaimanakah konsep hubungan suami istri yang selayaknya Bagaimana mengelola cinta cinta sosial dan cinta pribadi Dengan sangat apik Cak Nun mengupasnya di dalam buku ini.. Renungan Emha mengenai keindonesiaan, dia pribadi, komunitas dan kegiatannya, juga soal poligami Yang punya keinginan atau niat pingin berpoligami sebaiknya pikir2 dulu, dan baca buku ini. Seperti biasa pemikiran Cak Nun memang selalu Out of the box Hal itu juga tampak dari tulisannya di buku ini Buku ini tidak direkomendasikan bagi sembarang orang karena memang tema bahasannya bisa jadi merupakan hal yang sensitif bagi orang orang tertentu Dengan membaca buku ini maka kita akan tahu yang dimaksud dengan pernikahan dari kacamata Cak Nun Bahwa sesungguhnya pernikahan itu bukan hanya antara laki laki dan perempuan Pernikahan itu juga terjadi antara Tuhan dengan semua makhluknya, antara manusia dengan alam dan lingkungannya, dan antara pemimpin dengan rakyatnya Dan tentu saja setiap pernikahan harus dilandasi dengan cinta dan kasih sayang Maka dari itulah Tuhan mempunyai sifat pengasih dan penyayang Rahman dan Rahim Demikianlah selayaknya sikap suami terhadap istri, manusia terhadap alam, dan pemimpin terhadap rakyatnya.Istriku seribu Karena memang istrimu bukan hanya wanita yang kau nikahi saja Ada alam yang harus juga kau cintai kau jaga, dan kau rawat sebaik baiknya Ada juga manusia manusia di sekitarmu yang harus kau sayangi dan tak boleh kau sakiti hatinya Kau harus mencintainya sebagai sesama manusia Mereka adalah istri istrimu dalam konteks Arrahman.Rahman dulu baru Rahim Beres dulu cinta sosialmu barulah akan tenang cinta pribadimu Jika kau sadar betapa berat dan besar tanggung jawabmu untuk mengurus dan menafkahi istri istri Arrahman mu maka kau akan lupa dengan nafsumu dan keinginan keinginan pribadimu sendiri.Bagiku buku ini cukup menarik dan cukup memprovokasi pikiranku untuk kembali berpikir lebih jauh tentang makna dari pernikahan yang sesungguhnya. Buku ini isinya tentang pandangan dua negara, yakni satu negara yang melarang poligami dan mendukung poligami Maka seorang murid dari Kyai Sudrun, seorang guru yang pandai, menulis sebuah essay yang berisi pandangan tentang poligami Setelah membaca buku ini, saya paham bagaimana definisi poligami yang sebenarnya Bahwasanya poligami tidak memberatkan pihak wanita jika dilaksanakan sesuai dengan syariatnya Bahwasanya poligami yang dilakukan semua orang jaman sekarang itu tidaklah sesuai syariat poligami yang sebenarnya Kau bisa memiliki istri, istrimu seribu, seluruh wanita muslim adalah istrimu Namun itu semua istri Ar Rahmanmu istri yang kau kasihi dan harus kau utamakan Umpama hubungan sosial sesama manusia Sementara istri Ar Rahimmu hanya satu, kau hanya memiliki satu hati dan tentu saja hanya diserahkan kepada 1 orang, yakni istri yang kau sayang Meskipun tidak diutamakan, namun istri Ar Rahim adalah satu satunya yang paling berhak menerima kasih sayangmu.Sampai dunia kiamatpun, tidak ada manusia yang bisa bertindak adil Maka dari itu jika kau tidak bisa melakukannya hindarilah poligami Kecuali dalam keadaan untuk menolong 1 pihak, atau menutupi aib satu dan lainnya.Buku ini tidak terlalu tebal dan bahasanyapun mudah dicerna Banyak quote yang bisa kita petik sebagai bekal kehidupan menjadi lebih baik.

Budayawan Emha Ainun Nadjib, kelahiran Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953, ini seorang pelayan Suami Novia Kolopaking dan pimpinan Grup Musik KiaiKanjeng, yang dipanggil akrab Cak Nun, itu memang dalam berbagai kegiatannya, lebih bersifat melayani yang merangkum dan memadukan dinamika kesenian, agama, pendidikan politik dan sinergi ekonomi Semua kegiatan pelayannya ingin menumbuhkan potensialitas

[PDF / Epub] ☂ Istriku Seribu By Emha Ainun Nadjib – Webcambestmilf.info
  • Paperback
  • 64 pages
  • Istriku Seribu
  • Emha Ainun Nadjib
  • Indonesian
  • 04 November 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *